YG TIDAK DILAKUKAN NABI, HARAMKAH KITA LAKUKAN ?

Al-Imam Mujtahid Mutlak Mustaqil (Nashirus Sunnah)
mengatakan ; “Setiap perkara apapun yang ada
landasannya dari Syara’maka itu bukan bid’ah.
walaupun tidak dikerjakan oleh Salaf” [Husnu At-
Tafahum wa Ad-Dark fiy At-Tark]
Dalam kitab lain disebutkan, “”Setiap perkara yang memiliki landasan Syara’ dan walaupun tidak dikerjakan oleh Salafush Shaleh, maka itu tidak buruk”. [Mafhum Al-Bid ’ah ‘Inda Ulama’ Al-Ummah]
Kaidah Ushul mengatakan,
“”apa yang ditinggalkan tidak menunjukkan bahwa sebuah perbuatan terlarang (haram)”
Untuk menunjukkan sesuatu itu haram, Alquran
dan sunnah menggunakan lafazh-lafazh larangan,
tahrim atau ancaman siksa (‘iqab), seperti:2
“…dan janganlah engkau dekati zina…”(Al-Isra:32)
“… dan janganlah kamu makan harta di antara
kamu dengan cara yang batil …”(Al-Baqarah:188)
“Diharamkan atas mubangkai dan daging babi …” (AlMaidah:3)
Rasulullah Saw bersabda:”Siapa yang berdusta maka bukan daripada golongan kita.”
Dari nash-nash di atas, para ulama mengistimbath
hukum bahwasanya zina,memakan harta orang lain
secara batil, memakan bangkai dan babi serta
berbohong adalah haram.Dan tidak pernah di dalam
istimbath hukum, para ulama kita menggunakan
tark Nabi (sesuatu yang ditinggalkan atau tidak
dikerjakan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam) sebagai
hujjah untuk mengharamkan sesuatu.
Perhatikan ayat dan hadits
berikut ini:
“…dan apa-apa yang Rasul datangkan kepadamu maka
ambillah dan apa-apa yang Rasul larang maka
tinggalkanlah …”(Al-Hasyr:7)
Dari ayat di atas sangat jelas bahwa kita disuruh
meninggalkan sesuatu jika dilarang Rasul, bukan
ditinggalkan atau tidak dilakukan Rasul Shallallahu
‘alaihi wa sallam .
Kemudian coba perhatikan hadits berikut ini:
Nabi Saw bersabda: “Apa yang aku perintahkan maka
kerjakanlah semampumu dan apa yang aku larang
maka jauhilah!”
Jadi siapapun yang melakukan sesuatu
dan sesuatu itu tidak pernah dilakukan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa dikatakan
dia telah bertentangan dengan sunnah, sebab tark
bukan bagian dari sunnah.
Para ulama ushul fiqih telah bersepakat semuanya
bahwa landasan hukum (hujjah) untuk menentukan
sesuatu itu wajib, sunnah,mubah, haram dan makruh
dengan empat landasan hukum yaitu: Alquran,
sunnah, ijma’ dan qiyas.Dan tidak pernah at-tark
dijadikan sebagai landasan hukum (hujjah).
Jikalau ada yang mengatakan bahwaada”Sunnah Tarkiyyah”maka itu jelas-jelas telah menambah-nambah dan membuat-buat dalil dalam agama dan itu bid’ah
dlalalah.
Selaras dengan apa yangdisampaikan oleh Imam
Syafi’i, Imam Abu Muhammad Abdullah Qutaibah didalam Al-Ikhtilaf fiy Lafdzi wa Ar-Rad ‘alaa Al-Jahmiyyah wa Al-Musyabbihah : “perbuatan
membid’ahkan -pendapat yang masih bersandarkan
hujjah- dalam agama Allah adalah bid’ah”

Referensi ;
– Kitab Husnut-Tafahumi wa Ad-Darki Limas’alatit-Tark
– Mafhum Al-Bid ’ah ‘Inda Ulama’ Al-Ummah

Tentang Daarulmajaadzib

KAJIAN STUDI TAUHID - Membangun Manusia yang Berketuhanan Yang Maha Esa Seutuhnya
Pos ini dipublikasikan di Fiqih. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s