Kemuliaan Sahabat Rasulullah SAW

Disabdakan oleh rasulullah….
لاَتَسُبُّوا أَصْحَابِيْ فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ اَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَابَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ ( صحيح البخاري

” Janganlah kalian mencaci para sahabatku, jika diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka belum menyamai segenggam dari mereka tidak pula setengah genggam dari mereka “. (Shahih Al Bukhari)

Meskipun kita berinfak emas sebesar gunung Uhud sekalipun, maka hal itu belum menyamai satu genggam tangan mereka yang berinfak di masa Nabi di awal perjuangannya, dan tidak pula menyamai pahala setengah dari satu genggam tangan mereka ketika mereka berinfak di jalan Allah di masa kebangkitan pertama Sayyidina Muhammad SAW . Karena apa ?

Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna ucapan ini, bahwa ucapan ini diucapakan kepada para sahabat . Para sahabat yang hidup di masa Nabi SAW telah diucapkan ucapan ini , menunjukkan bahwa para sahabat itu memiliki derajat kemuliaan dari yang pertama berjuang bersama Rasulullah saw baru yang kemudian masuk Islam selanjutnya dan selanjutnya .

Di awal masa perjuangan Rasul saw , keadaan beliau demikian sulitnya namun kemudian beliau dalam limpahan kemegahan oleh Allah swt, sehingga beliau tiada henti-hentinya melimpahruahkan harta, emas , perak , hewan ternak dan lain sebagainya disampaikan kepada para muslimin dan muallaf ( orang yang baru masuk Islam ) bahkan mereka yang di luar Islam. Hadirin hadirat, hadits ini juga bukan dimaksud untuk menegur atau menghardik ummat beliau untuk tidak mencaci para sahabat, tetapi agar kita menjaga lidah kita dari mencaci orang-orang yang dekat dengan Allah, karena Rasul SAW bersabda riwayat Shahih Al Bukhari :

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ ( صحيح البخاري
” Mencaci seorang muslim itu adalah fasiq dan memerangi muslim itu kufur ” ( Shahih Al Bukhari)

Fasiq adalah orang yang tidak baik di mata Allah, orang yang hina di mata Allah . Jika kita menggunakan lidah ini untuk mencaci seorang muslim itu adalah fasiq, maka lebih –lebih lagi mencaci para sahabat Sayyidina Muhammad saw, kenapa? karena mereka berjuang langsung bersama Rasulullah saw, mereka penopang dakwah Sang Nabi, mereka yang menjadi benteng atas panah dan tombak yang diarahkan kepada tubuh sang Nabi, mereka jadikan tubuh mereka sebagai perisainya. Maka sebanyak-banyaknya amal baik seseorang tiada artinya dibanding amal yang sedikit dari para sahabat, karena apa ?, karena mereka hidup bersama Nabi Muhammad saw dan karena mereka mencintai Rasulullah saw.

Para sahabat pun sangat mencintai keluarga Rasul saw demikian pula keluarga Rasul saw sangat mencintai para sahabat. Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, berkata Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA :

اُرْقُبُوْا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ ( صحيح البخاري
” Jagalah dan dekatlah kepada Nabi Muhammad saw dengan mencintai keluarga beliau “. ( Shahih Al Bukhari )

Diriwayatkan pula dalam Shahih Al Bukhari, berkata Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA :

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَقَرَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ من قَرَابَتِيْ ( صحيح البخاري
” Demi Zat yang jiwaku ada padaNya ( Allah swt ), sungguh menyambung silaturrahmi dengan kerabat Rasulullah lebih aku cintai daripada menyambung silaturrahmi dengan kerabatku “. ( Shahih Al Bukhari )

Demikian ikatan Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA dengan kelurga Rasul Saw. Adapun mengenai kejadian tanah sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari bahwa Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA ketika didatangi oleh Sayyidatuna Fatimah Az Zahra’, putri Rasulullah saw untuk mengambil tanah waris dari sang Nabi, maka Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq sebagai khalifah menolaknya dan mengatakan Rasulullah saw bersabda bahwa ” Rasul tidak mewariskan harta tapi mewariskan ilmu “, maka Sayyidah Fatimah kembali ke rumahnya, namun sebagian orang mengatakan bahwa kejadian ini merupakan perbuatan kelancangan dari Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq yang menyakiti hati putri Rasulullah saw , tentunya tidak demikian, karena Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq setelah menjalankan tugasnya bahwa telah diperintahkan oleh Rasul SAW, bahwa semua Nabi dan Rasul tidak mewarisi harta tetapi mereka mewariskan ilmu, maka semua harta beliau saw masuk ke baitul maal . Namun setelah Sayyidina Abi Bakr mendengar desas desus yang mengatakan bahwa putri Rasulullah kecewa, maka diriwayatkan dalam Fathul Baari Bisyarah Shahih Al Bukhari bahwa Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq datang berkunjung ke rumah Sayyidina Ali bin Abi thalib Kw. Maka berkata Sayyidina Ali : ” Wahai Khalifah Abu Bakr, apa yang membuatmu datang kesini ?”, berkata Sayyidina Abi Bakr : ” Aku memohon izin untuk meminta maaf kepada putri Rasulullah saw, Sayyidah Fathimah Az Zahra’ barangkali aku telah menyinggung perasaannya “, maka sayyidina Ali mengizinkan , kemudian Sayyidina Abi Bakr masuk dan memohon maaf, diriwayatkan dalam Fathul Bari bahwa Sayyidina Abi Bakr tidak keluar dari kamar itu sampai Sayyidatuna Fathimah Az Zahra’ telah ridha dan gembira dengan sesuatu yang barangkali menyinggung perasaannya . Maka berkata Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani bahwa riwayat ini menyelesaikan permasalahan tanah dengan tuntas karena sayyidina Abi Bakr telah memohon maaf kepada Sayyidatuna Fathimah, dan Sayyidatuna Fathimah sudah merelakannya,

Lantas siapa lagi yang masih ingin meributkan bahwa para sahabat saling bermusuhan satu sama lain, bahwa para sahabat berebutan tanah satu sama lain, ini bukan sinetron, ini keluarga Sayyidina Muhammad SAW . Semua khulafaa Ar Rasyidiin adalah keluarga Rasulullah SAW, Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq adalah mertua Rasulullah saw, Sayyidina Umar Ibn Khattab mertuanya Rasul SAW, Sayyidina Utsman menantu Rasulullah saw, sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah saudara sepupu dan menantu Rasulullah saw. Maka jika ada seseorang atau suatu kelompok dari muslimin atau bukan muslimin mengatakan bahwa sayyidina Abu Bakr, Umar dan Utsman tidak menghargai keluarga Rasul saw, justru mereka ( Khulafaaur Raasyidin) itu keluarga Rasulullah saw, yang dua mertua Rasulullah dan yang dua adalah menantu Rasulullah saw . Maka mereka yang mengatakan hal itu berarti menjelekkan juga keluarga Rasulullah saw.

Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA orang yang sangat mencintai keluarga Rasulullah saw, dan sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw serta semua keluarga Rasul SAW dan para sahabat semuanya sangat mencintai Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA. Mereka akrab dalam bergaul dan bercanda. Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, ketika Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq datang dengan wajah yang tidak cerah, wajah yang sedih maka Rasul SAW berkata : ” Sahabat kalian ini sedang dalam kesedihan, apa yang membuatmu sedih wahai Abu Bakr “?, maka sayyidina Abi Bakr menjawab : ” Aku sedikit berselisih faham dengan Umar Ibn Khattab, lalu aku datang ke rumahnya untuk memohon maaf, tapi Umar tidak membukakan pintu untuk ku dibiarkan saja di depan pintu “, maka merah padamlah wajah sayyidina Muhammad saw mendengar ucapan Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq. Dan tidak lama kemudian sayyidina Umar Ibn Khattab datang . Rasulullah saw tanpa langsung menegur sayyidina Umar, beliau hanya berkata : ” Demi Allah, ketika semua orang mendustakan aku, ketika kalian semua mengatakan aku pendusta , Abu Bakr sudah membenarkan ajaranku dan ketika semua orang mendustakan aku, Abu Bakr As Shiddiq juga yang menolongku “, maka Sayyidina Abu Bakr berlutut dan menangis di kaki Rasulullah memohon maaf agar Umar ibn Khattab dimaafkan oleh Rasul SAW. Maka Sayyidina Umar baru ditanya oleh Rasul SAW : ” Wahai Umar apa yang telah kau perbuat pada sahabatmu, sahabatmu telah meminta maaf kepadamu tetapi kau tidak mau memaafkannya “, maka Sayyidina Umar Ibn Khattab berkata : ” betul ya Rasulallah, awalnya aku tidak mau memaafkan , tapi setelah ku buka pintu beliau sudah tidak ada, ku menyusul ke rumahnya beliau pun tidak ada, lantas aku ingin mengadu kepada mu bahwa aku mencari Abu Bakr setelah aku tidak mau membukakan pintu untuk Abu Bakr dan ternyata beliau sudah disini “. Demikian indahnya para sahabat Rasululullah saw Radiyallahu ‘anhum wa ardhahum.

Ketika tiba saat-saat wafatnya sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA, maka Sayyidina Abi Bakr berkata kepada putrinya, Aisyah istri Rasulullah saw : ” Wahai Aisyah putriku, Rasulullah saw dulu ketika wafat dikafani dengan berapa helai kain ? “, maka Sayyidatuna Aisyah berkata : ” tiga helai kain wahai Ayah “, berkata lagi Sayyidina Abi Bakr : ” Wahai Aisyah, Rasulullah wafatnya pada hari apa ? ” Sayyidatuna Aisyah berkata : ” Hari senin “, kemudian Sayyidina Abi Bakr bertanya lagi : ” Wahai Aisyah, hari ini hari apa “?, Sayyidatuna Aisyah menjawab : ” hari senin wahai Ayah “, kemudian Sayyidina Abu Bakr berkata : ” Kalau begitu, aku harapkan sebelum terbenanmnya matahari adalah waktu wafatku “. Dan benar sore itu wafatlah Sayyidina Abi Bakr As Shiddiq RA , hari Senin di hari wafatnya Rasulullah saw, demikian khalifah yang pertama.

Khalifah yang kedua Sayyidina Umar ibn Khattab RA, kita memahami demikian banyak riwayat beliau sebagai orang yang selalu membela Rasulullah saw dengan segala kemampuannya, dan cintanya kepada Rasul saw sangat luar biasa hingga beliau lebih mencintai Rasulullah saw lebih dari dirinya sendiri, dan ketika beliau berdoa di salah satu doanya adalah :

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي الشَّهَادَةَ فِي بَلَدِ رَسُوْلِكَ
” Wahai Allah berilah aku mati syahid negeri Rasul-MU ”

Sayyidina Umar RA meminta mati syahid, tetapi ada syaratnya mati syahid harus di Madinah Al Munawwarah, tidak mau di tempat yang lain, ingin dimakamkan di Madinah demikian doa sayyidina Umar ibn Khattab yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari . Bahkan di detik-detik wafatnya sayyidina Umar Ibn Khattab RA, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, ketika beliau sedang melakukan shalat dhuhur tiba-tiba ada seseorang menyerangnya dan menusuknya dengan pedang, dan robohlah Sayyidina Umar bin Khattab tetapi tidak langsung wafat, maka beliau di bawa ke rumahnya kemudian beliau minta susu, beliau menyukai susu karena Rasulullah saw juga menyukai susu. Ketika para sahabat melihat Sayyidina Umar ibn Khattab sudah terengah-engah dan darah terus mengalir dari luka besar di perutnya bekas tusukan pedang, setelah air susu diminum maka susu itu tumpah dari bekas luka di perutnya, maka para sahabat berkata kalau sudah begini berarti ini sudah ajal . Maka sayyidina Umar bin Khattab dengan tersengal-sengal berkata kepada putranya sayyidina Abdullah : ” Wahai Abdullah pergilah engkau ke rumah Sayyidatuna Aisyah Ummul Mu’minin, katakan kepada Ummul Mu’minin kalau seandainya diperkenankan aku ingin dimakamkan di sebelah makam Rasulullah saw “, inilah wasiat sayyidina Umar bin Khattab. Maka pergilah putranya, sayyidina Abdullah mendatangi sayyidatuna Aisyah, meminta izin agar Ayahnya diizinkan untuk dimakamkan di sebelah makam Rasulullah saw. Maka menangislah sayyidatuna Aisyah setelah mendengar bahwa Amiirul Mu’minin Sayyidina Umar bin Khattab sudah luka parah dan sedang menanggung sakaratul maut, maka Sayyidatuna Aisyah mengizinkannya. Kenapa Sayyidina Umar meminta izin kepada Sayyidatuna Aisyah?, karena Rasulullah saw dimakamkan di rumah sayyidatuna Aisyah RA. Dan kembalilah sayyidina Abdullah menghadap ayahnya, ternyata ayahnya sayyidina Umar masih hidup, ketika sayyidina Umar melihat anaknya kembali, beliau dalam keadaan bersandar kemudian tegak dengan tersengal-sengal ia berkata kepada anaknya : ” Apa yang akan kamu katakana, kabar apa yang akan kamu sampaikan, apakah aku diizinkan untuk dimakamkan di sebelah Rasulullah saw ? “, berkata sayyidina Abdullah : ” sudah diizinkan wahai Amiirul Mu’minin”, maka berkatalah sayyidina Umar bin Khattab : ” Demi Allah, tiada satu cita-cita yang lebih aku dambakan di dunia ini selain aku dimakamkan di samping makam Rasulullah saw “. Demikianlah keadaan wafatnya Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq, Sayyidina Umar bin Khattab RA.

Demikian pula Khalifah ketiga Sayyidina Utsman bin Affan RA orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW yang menikah dengan dua puteri Rasulullah saw yaitu Sayyidatuna Ruqayyah dan Sayyidatuna Ummu Kaltsum. Ketika sayyidina Utsman bin Affan Ra sudah hampir wafat, ia bermimpi Rasul SAW bersama sayyidina Abu Bakr As Shiddiq bersama Sayyidina Umar bin Khattab dan para sahabat lainnya yang telah wafat, maka Rasulullah saw berkata : ” Wahai Utsman apakah kau mau berbuka di dunia atau berbuka puasa bersama kami ?” , maka Sayyidina Utsman bin Affan berkata : ” Ma’akum, ma’akum ( bersama kalian ) wahai Rasulullah “. Maka di siang hari itu masuklah seseorang dari kelompok munafik dan memukulkan pedang di wajah sayyidina Utsman bin Affan yang sedang membaca Al qur’an Al Karim, dan darahpun mengalir membasahi wajah beliau dan mushaf Al quran Al Karim, dan disaat itu tentunya beliau berbuka puasa bersama Rasulullah SAW . Diriwayatkan dalam Sirah As Shahabah bahwa saat itu beliau sedang dalam keadaan sakit keras, tapi beliau memaksakan untuk berpuasa, maka setelah ditanya mengapa kau puasa wahai Utsman sedangkan engkau dalam keadaan sakit, setelah ditanya beberapa kali beliau tetap tidak menjawab, tetapi akhirnya Sayyidina Utsman menceritakan bahwa beliau bermimpi Rasulullah saw bersama sayyidina Abi Bakr dan sayyidina Umar bin Khattab dan Rasulullah saw bertanya maukah kau berbuka puasa bersama kami?, maka aku ( sayyidina Utsman ) berpuasa agar bisa berbuka puasa bersama mereka. Hadirin hadirat, Sayyidina Utsman adalah salah satu Khalifah yang berjasa di dalam banyak hal, diantaranya berakhirnya penjilidan Al quran Al Karim sehingga digelari Mushaf Utsmani .

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika salah seorang yang membenci sayyidina Utsman di masa Taabi’in berkata kepada Abdullah bin Umar : ” Wahai Ibn Umar, aku ingin bertanya tiga hal, yang pertama bukankah sayyidina Utsman bin Affan tidak hadir dalam perang Badr ?”, sayyidina Abdullah bin Umar menjawab : ” betul, beliau tidak hadir di perang Badr “, kemudian orang itu bertanya lagi :” bukankah dia tidaka hadir di Baiat Ar Ridwan ? “, sayyidina Abdullah bin Umar berkata : ” betul, beliau tidak hadir dalam Baiat Ar Ridwan “, dan orang itu berkata lagi : ” bukankah dia tidak hadir dalam perang Uhud ? “, sayyidina Abdullah bin Umar menjawab : ” betul beliau tidak hadir di dalam perang Uhud “. Maka orang itu berkata : ” Ya sudah terimakasih “, dan kemudian pergi. Sayyidina Abdullah bin Umar memanggilnya : ” Wahai fulan, kemarilah!! Kalau kau mengatakan bahwa sayyidina Utsman bin Affan tidak hadir dalam perang Badr itu betul, namun banyak saksi yang mutawatir, para sahabat menyaksikan bahwa ketidakhadiran sayyidina Utsman bin Affan di dalam perang Badr itu dikarenakan sayyidina Utsman bin Affan menjaga istrinya yaitu putri Rasulullah saw yang sedang sakit” . Maka ketika itu sayyidina Utsman bin Affan bertanya kepada Rasulullah saw : Wahai Rasulullah, aku mau berangkat perang tapi putrimu sedang sakit “, maka Rasulullah saw berkata : ” tetap di tempatmu, jangan berangkat perang jagalah putriku “, maka ia menjaga putri Rasulullah saw dan meninggalkan perang Badr, sampai ketika kepulangan Rasul saw terdengar kabar bahwa Allah SWT mengampuni dosa-dosa Ahlul Badr sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul saw bersabda : Allah swt berfirman kepada Ahlu Badr :

اِعْمَلُوْا مَاشِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ
” Wahai Ahlu Badr, beramallah semau kalian sungguh Aku telah mengampuni dosa-dosa kalian ”

Maka Sayyidina Utsman menangis dan berkata : “Ya Rasulullah kemuliaan Badr tidak aku dapatkan, demi menjaga putrimu”, maka Rasulullah saw berkata : “Engkau termasuk ahlul Badr, dan engkau mendapatkan pahala ahlul Badr “. Hal ini merupakan salah satu dalil bahwa mengirim pahala kepada yang hidup pun diperbolehkan karena hal itu diperbuat oleh Rasul saw. Maka berkata sayyidina Abdullah bin Umar : ” Ketidakhadiran sayyidina Utsman bin Affan di perang Badr karena menjaga putri Rasulullah saw, tetapi Rasulullah mengatakan bahwa sayyidina Utsman bin Affan termasuk Ahlul Badr dan mendapatkan pahala ahlul Badr “. Adapun ketidakhadiran sayyidina Utsman di perang Uhud dikarenakan di saat itu Rasul saw mengutus beliau ke suatu tempat, ini adalah perintah Rasul saw. Dan ketidakhadiran beliau di Baiat Ar Ridwan karena beliau telah di perintah oleh Rasulullah untuk pergi ke Makkah Al Mukarramah dalam tugas”. Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika dalam Bai’at Ar Ridwan, Rasul saw mengangkat tangan kanan beliau seraya berkata kepada para sahabat : ” ini tangan kanannya Utsman bin Affan, mewakili daripada tangan Utsman bin Affan “. Demikian keadaan para sahabat RA wa ardhaahum.

Adapun Khalifah yang terakhir Baabul ‘Ilm ( gerbang ilmu ) nya Rasulullah saw yaitu sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw. Di riwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah saw berkata kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib :

يَا عَلِيُّ أَنْتَ مِنِّيْ وَأَنَا مِنْكَ
” Wahai Ali, kau adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari kamu ”

Merupakan satu kedekatan dan bentuk cinta yang sangat dahsyat dari Nabi Muhammad saw. Ketika para sahabat ingin melamar putri tercinta Rasulullah saw, sayyidatuna Fathimah Az Zahra’ , maka Rasul saw tidak memberikannya sampai sayyidina Ali yang datang kepada Rasulullah saw , maka barulah Rasulullah memberikan putrinya untuk dinikahi oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw. Dan sayyidina Ali tidak menyukai perpecahan, sungguh ketika terjadi perpecahan dan perbedaan pendapat maka sayyidina Ali berkata : “silahkan kalian musyawarah sendiri dan putuskan sendiri, sungguh aku benci dengan perbedaan pendapat, yang kuinginkan adalah seluruh manusia ini satu suara dan satu pendapat, kalau aku tidak bisa menyatukan perpecahan ini aku lebih memilih menyusul para sahabatku (sayyidina Abu Bakr, Umar dan Utsman RA)”. Setelah waktunya dekat sayyidina Ali berkata : ” mana orang yang akan datang memukulkan pedangnya ke wajahku ?!”, maka seseorang berkata : “Wahai Ali Amirul Mu’minin apa maksudmu berkata seperti itu ?”, sayyidina Ali berkata : ” Rasul saw telah bersabda : ” Wahai Ali nanti disaat waktunya engkau wafat, kau akan banyak menghadapi perpecahan dan peperangan hingga ketika engkau sedang shalat maka ada seseorang dari sisimu memukulkan pedangnya di dahimu lantas darahmu mengucur sampai ke jambangmu, dan jenggotmu dan menetes maka itulah saat wafatmu” . Ketika sayyidina Ali menghadapi permasalahan dan perpecahan antara kaum muslimin, seraya berkata : ” mana orang yang akan datang memukul wajahku dengan pedangnya “. Dan saat sayyidina Ali sedang shalat subuh maka hal itu terjadi pada sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw, tetapi beliau tidak langsung wafat beliau sempat bicara kepada para sahabat : ” Janganlah kalian menyiksa orang yang telah memukulku dengan pedangnya itu, jangan terlalu keras mengikatnya jangan kau zhalimi dia karena aku akan berjumpa lagi dengan dia di hadapan Allah swt, kalau kalian berbuata zhalim kepadanya maka hal itu akan memberatkan hisabku”, demikianlah keadaan sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw, demikian keadaan Khulafaa Ar Rasyidin , demikian orang-orang mulia ini, demikian muhajirin dan anshar orang-orang yang sangat mencintai Rasulullah SAW .

Ketika perang Hunain dimana perang Hunain ini diikuti oleh banyak para Thulaqaa’ yaitu yang awalnya adalah para musuh Islam tetapi kemudian masuk Islam . Namun ketika mereka terjebak dalam kesulitan di perang hunain maka mereka berpecah belah, mundur melarikan diri dan Rasul SAW hanya bersama dengan beberapa orang terdekat beliau, maka Rasul SAW melihat ke atas bukit dan berkata ; ” Ya Ma’syaral Anshar ( wahai kaum Anshar ) “, maka kaum Anshar pun turun seraya berkata : ” Labbaik wa sa’daik wa nahnu ma’aka ya Rasulallah ( kami datang wahai Rasulullah dan kami bersamamu )”. Maka Rasulullah memanggil pula yang di atas bukit di sebelah kirinya : ” Ya Ma’syaral Anshar “, maka kaum Anshar pun turun dengan ucapan yang sama: ” Labbaika wa sa’daika ya Rasulallah “, lalu mereka bersatu dengan Anshar maka musuh-musuh terkalahkan dan Rasul saw membawa ghanimah ( harta rampasan perang ) dengan kemenangan, lalu membagikannya kepada kaum muhajirin dan kaum thulaqaa, padahal kaum thulaqaa’ adalah orang-orang yang meninggalkan Rasul saw saat perang itu, maka sebagian kaum ada yang berkata : ” Nabi ketika dalam kesusahan yang dahsyat kami yang dipanggil , tetapi disaat pembagian ghanimah perang kami tidak kebagian “. Maka Rasul saw memanggil kaum Anshar, beliau tidak marah kepada kaum Anshar dengan mengatakan :” Kalian kan punya harta, punya rumah, hewan ternak dan punya usaha, sedangkan mereka orang thulaqaa’ orang-orang yang baru saja memusuhi Islam kemudian masuk Islam, dan Muhajirin adalah orang-orang yang pindah dari Makkah dan tidak punya rumah sebagian tidak punya harta maka mereka lebih berhakl dari kalian..! “, tapi Rasul tidak mengatakan demikian namun Rasul SAW berkata : ” Sungguh wahai kaum Anshar, kuberikan ghanimah perang berupa harta dan hewan ternak, kambing dan onta kepada kaum muhajirin dan thulaqa’, dan aku berikan diriku pada kalian, ridhakah kalian ” ?, maka kaum Anshar pun menunduk dan Rasul saw berkata : ” Mereka kaum thulaqa’ dan Muhajirin pulang dengan membawa kambing dan onta, sedangkan kalian pulang membawa diriku “, maka kaum Anshar menangis gembira, demikian cintanya Rasulullah kepada kaum Anshar. Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, ketika di hari Fath Makkah Rasul SAW berkata : ” Barangsiapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan dia aman, barangsiapa yang masuk ke rumahnya dan mengunci rumahnya dia aman, dan barangsiapa yang masuk ke Masjidil Haram maka dia aman “. Maka kaum Anshar mulai risau setelah mendengar perkataan Rasul SAW, dan mereka berkata : “Rasulullah sudah pulang kampung dan sekarang kita sudah tidak diperhatikan lagi, buktinya Rasulullah sudah memuliakan Abu Sufyan yang awalnya adalah musuh besar Islam kini beliau sudah pulang kampung dan kembali kepada keluarganya”. Maka kabar sampai kepada Rasul SAW lewat Jibril AS ” kaum Anshar ada yang berkata bahwa engkau telah pulang ke kampung halaman dan berpisah dengan mereka, tampaknya mereka kecewa wahai Rasulullah”. Maka Rasul saw memanggil ” Ya ma’syaral anshar ( wahai kaum Anshar ) “, dan merekapun datang berkerumun dihadapan Rasul saw tampak wajah mereka muram dan sedih, maka Rasul SAW berkata : ” kalian telah mengatakan bahwa aku akan pulang kampung kembali ke tanah kelahiranku di Makkah”, lantas Rasulullah saw bersabda :

كَلاَّ إِنِّي عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ هَاجَرْتُ إِلَى اللهِ وَإِلَيْكُمْ اَلْمَحْيَا مَحْيَاكُمْ وَالْمَمَاتُ مَمَاتُكُمْ
” Sungguh tidak, aku ini hamba Allah dan RasulNya, aku hijrah kepada Allah dan kepada kalian hidupku bersama kalian, dan wafatku bersama kalian ”

Maka merekapun menangis, memeluk dan mencium Rasul saw dari gembiranya. Jadi Rasul saw berkata : ” kalian mengatakan aku sudah pulang kampung lalu kalian berpisah denganku, maksudnya begitu? Maka Rasul berkata : ” Sungguh aku ini hambaAllah dan RasulNya , aku hijrah dari Makkah kepada Allah ke kampung kalian, maka hidupku bersama kalian dan wafatku bersama kalian “, maksudnya Rasul akan kembali ke Madinah setelah ini dan wafat disana. Maka kaum Anshar menangis dan memeluk Rasul saw karena gembira. Inilah 14 abad yang silam yang terang benderang dengan cahaya keluhuran, cahaya keluhuran itu tidak padam terwariskan dari zaman ke zaman dengan satu sambungan sabda sang Nabi saw :

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
” Seseorang bersama dengan orang yang dicintai

Inilah idola kita kaum Muhajirin dan Anshar hingga malam ini kita masih mendengar lantunan qasidah “Thala’al Badr ‘Alaina” dipukul dengan rebana oleh sahabat kita jamaah hadrah, yang ini merupakan qasidah kaum Anshar saat menyambut Nabi Muhammad saw. Inilah keadaan kita walaupun 14 abad sudah lewat dari masa itu, tapi gema qasidah “Thala’al Badr ‘Alaina” masih menggema di majelis-majelis kita menyambut sang Nabi saw, walaupun kita tidak melihat beliau, walaupun kita tidak jumpa dengan beliau, namun cinta dan rindu tidak akan pernah sirna pada ummat ini . Semoga selalu makmur pada jiwaku dan kalian cinta dan rindu kita kepada Rasulullah. Amiin

Tentang Daarulmajaadzib

KAJIAN STUDI TAUHID - Membangun Manusia yang Berketuhanan Yang Maha Esa Seutuhnya
Pos ini dipublikasikan di sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s