PENGERTIAN HUKUM SYAR’I

Difinisi/ta’rif hukum syar’i;

اثبات امرلامراونفيهءنه بواسطة وضع الواضع وهوخطاب الله تعالى المتعلق بافعال ال المكلفين بالطلاب اوالاباحةاوالوضع لهما
Tetapnya sesuatu perkara atas perkara yang lain/ lepasnya suatu perkara atas perkara lainnya dengan melalui penetapan wadl’i (yang menetapkan ) yaitu firman Allah yang berhubungan dengan pekerjaan orang mukhallaf,berupa perintah,larangan,anjuran atau tata cara pelaksanaan perintah dan larangan tersebut.

Materi kata لامراونفيهءنهAdalah materi kata yang mempersamakan antara hukum Syar’i, hukum Aqli dan hukum Adi Yang di Ambil dari Definisi hukum secara umum .

Materi kata بواسطة وضع adalah materi kata yang membedakan antara hukum Syar’i dengan hukum yang lainnya.Hukum Syar’i ada penetapan/yang menetapkan,hukum akal tidak di tangguhkan dengan adanya yang menetapkan dan hukum adat adalah hasil dari seringnya terjadi.

Materi kata وهوخطاب الله adalah penjelasan dari materi بواسطة وضع الواضع bahwa yang menetapkannya adalah firman Allah SWT baik langsung dari Alqur’an atau melalui sabda Rasullallah SAW ( Alhadist ).Adapun Dzat Allah dan Rasulnya di namakan As-syari’u ( yang menetapkan hukum Syara ).karena yang menetapkannya adalah Allah swt dan Rasulnya tidak seorangpun dapat intervensi di dalam menetapkan hukum Syara.Dan bunyi hukum yang bukan bersumber dari Alqur’an dan Alhadist baik secara langsung atau tidak langsung adalah pasti bukan hukum Syara.

Materi kata بالطلاب اوالاباحة المتعلق بافعال ال المكلفين yang bertalian dengan pekerjaannya orang mukallaf ,bersifat perintah atau anjuran.Materi ini menunjukan bahwa firman Allah swt yang menjadi hukum syara adalah firman yang ada kaitannya dengan amal dan perbuatannya para mukallaf,yang isinya menuntut untuk di kerjakan baik berupa perintah,larangan atau anjuran.Jadi firman yang tidak ada kaitan nya dengan pekerjaan nya para mukallaf tersebut tidak menjadi dasar hukum syara,seperti ayat yang menerangkan tentang penciptaan langit dan bumi,penciptaan manusia,kisah para nabi dan lain nya. Seperti contoh pada ayat berikut ini :

Contoh ayat yang menerangkan tentang penciptaan langit dan bumi :

بد يع السموات والارض واذا قضى امر افانما يقول له كن فيكون
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) dia Hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” lalu jadilah ia.
(QS.albaqoroh: 117)

Contoh ayat yang menceritakan kisah-kisah Nabi dalam :

(ingatlah), ketika Yusuf Berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku Sesungguhnya Aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”(Qs.Yusuf :4)

Contoh ayat yang berisikan hukum syar’i dalam  :

وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِينَ
“ Dan dirikanlah sholat, tunaikan zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ “ ( Qs Al Baqarah : 43 )

Pembagian hukum syar,i

Khitobullah yang menjadi hukum syar,i terbagi 2 :

1.khitob taklif : khitob yang berisikan tugas pokok
2.khitob wadlo : khitob yang berisikan aturan dan petunjuk pelaksanaan khitob taklif

Khitob taklif terbagi menjadi 5 :

1. wajib : perintah yang bila di kerjakan mendapat pahala dan bila tidak di kerjakan mendapat dosa.
contoh : perintah sholat wajib 5 waktu,puasa di bulan ramadhan,membayar zakat dll.
2. sunnah : perintah yang bila di kerjakan mendapat pahala dan bila tidak di kerjakan tidak mendapat dosa.
contoh : shalat sunnah rawatib,shalat dhuha,bersiwak,
3. haram : perintah meninggalkan yang apabila di jalankan mendapat pahala dan bila di kerjakan mendapat dosa.
contoh : melakukan zina,memakan riba,membicarakan aib orang dll.
4. makruh : perintah meninggalkan yang apabila di jalankan mendapat pahala dan bila di kerjakan tidak mendapat dosa.
contoh : memakan makanan yang beraroma tajam seperti memakan jengkol,bawang,merokok,makan dan minum dalam kaadaan junub.
5. mubah : bila di kerjakan tidak mendapat dosa atau pahala demikian juga sebaliknya.
contoh : makan,minum,duduk,bersenda gurau dll.

Khitob wadlo terbagi menjadi 5 :

1. sebab : sesuatu perkara atau kejadian yang membuat suatu pekerjaan menjadi pasti hukumnya.
contoh : bergesernya matahari ke sebelah barat menjadi sebab wajibnya sholat dzuhur,jaman sekarang bisa di tetapkan wajibnya/masuknya sholat dengan jam/waktuseperti masuknyasholat dzhuhur pukul12:05,asharjam15:20, maghrib jam 18:05 dll..
2. syarat : sesuatu yang harus di tunaikan sebelum masuk ke pekerjaan.
contoh : mengambil wudhu sebelum sholat
3. maneh : yang menghalangi suatu pekerjaan.
contoh : datangnya haid pada wanita
4.shohih : kumpulnya syarat dan rukun serta tidak adanya yang membatalkan suatu perintah.
5.fasid : yang mengagalkan syahnya suatu perintah
Contoh : buang gas ketika ketika sedang sholat,mengucapkan bacaan yang bukan bacaan sholat ketika sedang melakukan ibadah sholat.

Sumber Hukum syar,i

Adapun bunyi hukum pendapat para imam Mujtahid adalah bersumber dari Alqur’an dan Alhadist,maka termasuk dalil-dalil hukum syar,i, hal ini di jamin dalam Alqur’an :


هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ
Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat( 01 )Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat ( 02 ) adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah, untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah, dan orang-orang yang mendalam ilmunya, mereka berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”.(03)(Qs.Al-imron : 7 )

( 01 ) Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas Maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.
( 02 ) ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya Hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat mengenai Arasy,dzat dan sifat Allah dan lain-lain.
(03)kalimat yang menjadi dasar hukum ijtihad

Rasulallah Saw juga menjamin kepada para mujtahid dengan hadistnya yang berbunyi :


اذاحكم للحكيم فاجتهد فاصاب فله اجران واذاحكم الحكيم فاخطا فله اجرواحد
Apabila Hakim / menetapkan hukumnya dengan ber’ijtihad terlebih dahulu,kemudian pendapatnya tepat seperti yang di maksud dalam Alqur’an dan Alhadist maka ia mendapat dua pahala ( satu pahala buat ijtihadnya dan kedua,pahala buat ketepatannya ) dan apabila ijtihatnya tidak tepat sebagaimana Alqur’an & Alhadist maka mujtahid tersebut mendapat satu pahala ( pahala ijtihadnya saja ).

Dalam Hadist tersebut tidak terdapat kata-kata yang mempersalahkan Mujtahid walaupun pendapatnya tidak tepat sebagaimana yang dimaksud oleh Allah dan Rasulnya.Hal ini menunjukan bahwa pendapat para mujtahid tersebut adalah benar dan bisa di jadikan landasan Hukum syar’i.Walaupun demikian tidak semua orang bisa menjadi mujtahid,ada syarat dan ketentuannya di dalam ilmu ushul fiqih untuk menjadi Mujtahid.

Namun demikian Ada 4 sumber hukum islam yang di sepakati jumhur ulama,Keempat sumber hukum yang disepakati jumhur ulama yakni Al Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas, landasannya berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Shahabat Nabi Saw Muadz ibn Jabal ketika diutus ke Yaman.
عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ، قَالَ لَهُ:”كَيْفَ تَقْضِي إِنْ عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ؟”، قَالَ: أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ، قَالَ:”فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ؟”قَالَ: فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:”فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟”قَالَ: أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلا آلُو، قَالَ: فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ، وَقَالَ:”الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”
“Dari Muadz ibn Jabal ra bahwa Nabi Saw ketika mengutusnya ke Yaman, Nabi bertanya: “Bagaimana kamu jika dihadapkan permasalahan hukum? Ia berkata: “Saya berhukum dengan kitab Allah”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam kitab Allah” ?, ia berkata: “Saya berhukum dengan sunnah Rasulullah Saw”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam sunnah Rasul Saw” ? ia berkata: “Saya akan berijtihad dan tidak berlebih (dalam ijtihad)”. Maka Rasul Saw memukul ke dada Muadz dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah sepakat dengan utusannya (Muadz) dengan apa yang diridhai Rasulullah Saw”.

Ijma

1. Pengertian ijma’
Ijma’ menurut bahasa Arab berarti kesepakatan atau sependapat tentang sesuatu hal, seperti perkataan seseorang( اجمع القو م عل كذا )yang berati “kaum itu telah sepakat (sependapat) tentang yang demikian itu.”
Menurut istilah ijma’, ialah kesepakatan mujtahid ummat Islam tentang hukum syara’ dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Sebagai contoh ialah setelah Rasulullah SAW meninggal dunia diperlukan pengangkatan seorang pengganti beliau yang dinamakan khalifah. Maka kaum muslimin yang ada pada waktu itu sepakat untuk mengangkat seorang khalifah dan atas kesepakatan bersama pula diangkatlah Abu Bakar RA sebagai khalifah pertama. Sekalipun pada permulaannya ada yang kurang menyetujui pengangkatan Abu Bakar RA itu, namun kemudian semua kaum muslimin menyetujuinya. Kesepakatan yang seperti ini dapat dikatakan ijma’.

Dasar hukum ijma
Allah SWT berfirman:
يَااَيٌّهَاالذِيْنَ
اَمَنُوْا اَطِيْعُوااللهَ وَ اَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الأَمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil
amri diantara kamu.” (Q.S An-Nisâ’: 59)

Hadist Rasulallah Saw :

لا تجتمع ا متي على ضلا لة
Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan(HR.Abu Daud &Tirmidzi)

Qiyas

Pengertian qiyas
Qiyas menurut ulama ushul fiqih adalah menerangkan sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Qur’an dan hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. Mereka juga membuat definisi lain, Qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan illat hukum.

Dasar Hukum qiyas
QS Al-Hasyr ayat 2 :

هو الذى اخرج الذ ين كفرز ……فاعتبروا با ولى الابصر
Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ah `li Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama.kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan ( 04 ).

( 04 ) Ayat yang di jadikan dasar hukum qiyas

About these ads

Tentang Daarulmajaadzib

KAJIAN STUDI TAUHID - Membangun Manusia yang Berketuhanan Yang Maha Esa Seutuhnya
Tulisan ini dipublikasikan di Tauhid. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s